Leave a comment

Sekali waktu, Bill Shankly, manager yang 15 tahun menukangi Liverpool semenjak 1959-1974 pernah berkata “‘At a football club, there’s a holy trinity: the players, the manager and the supporters. Directors don’t come into it. They are only there to sign the cheques” Trinitas sepakbola ini, jika dianalogikan dalam suatu bentuk peperangan menghadirkan manajer sebagai jenderal perang yang menentukan taktik dan strategi, pemain sebagai tentara-tentara yang mengejawantahkan taktik dan strategi tersebut di medan perang dan suporter sebagai subjek yang siap memberikan bantuan tanpa pamrih, entah dalam bentuk logistik, pendanaan dan terkadang bahkan menjadi tenaga sukarela dalam peperangan itu sendiri.

Membicarakan Jenderal-jenderal perang dalam sepakbola, anda harus memberikan kredit tersendiri terhadap sebuah mantan negara fasis di eropa selatan yang memiliki 20 regioni, Italia. Repubblica italiana adalah sebuah negara besar sepakbola, terbukti dengan keberhasilan memenangi 4 kali FIFA World Cup (1934, 1938, 1982, 2006). Pemain-pemainnya pun selalu menghiasi katalog legenda sepakbola, jika mengacu pada FIFA 100, daftar 100 pemain-pemain terbaik yang dibuat oleh Pele, 14 diantaranya adalah italiano, mulai dari zamannya Giampiero Boniperti, hingga yang masih aktif bermain seperti Gianluigi Buffon.

Italiano Allenatore pun tidak kalah brilian. Dalam 20 edisi terakhir pagelaran final European Champions League, turnamen yang boleh dikatakan paling kompetitif dan bergengsi pada level klub, terdapat 40 manager yang berlaga di Final. Dari angka 40 manajer ini, 11 diantaranya adalah Italiano. Negara-negara lain jauh berada dibawah Italia dalam hal kepemilikan manajer yang berlaga di Final UCL dalam 20 tahun terakhir,  Jerman dan Belanda yang berada diposisi kedua, masing-masing hanya 6 kali mengirimkan wakilnya. Lebih lengkap, ditampilkan dalam grafik berikut ini ;

 

 Image

Dari grafik di atas, kita dapat melihat dengan sangat jelas dominasi manajer-manajer Italia di turnamen yang jika anda memainkan game virtual Football Manager, meiliki rating bintang 5, kompetisi yang hanya sama ratingnya dengan FIFA World Cup.

Kemampuan Italia menghasilkan pelatih-pelatih brilian ini tidak lepas dari kehadiran  Coverciano, pusat pendidikan pelatih dan pusat latihan tim nasional Italia. Bertempat di Florence, wilayah Tuscany Italia yang juga menurut penelusuran sejarah merupakan tempat lahirnya zaman Renaissance inilah manajer-manajer handal tersebut dilahirkan. Coverciano mengorbitkan manajer-manajer hebat mulai dari Arrigo Sacchi, Marcello Lippi dan Fabio Capello, hingga yang muda dan potensial seperti Antonio Conte, Vincenzo Montella dan si gundul, Roberto DI Matteo.

Coverciano merupakan “sekolah” unggulan yang mencetak manajer hebat seperti yang sudah disebutkan, bahkan Inggris, negara yang hingar bingar menyebut dirinya memiliki sepakbola paling kompetitif mendirikan sekolah kepelatihan St George Park dengan menjadikan Coverciano ini sebagai role model. Sekolah unggulan Coverciano ini, didukung pula oleh kultur sepakbola Italia yang mempercayai klubnya ditangani oleh manajer lokal, dari 20 klub yang berlaga di Serie A, hanya 2 klub yang di manajeri oleh ekspatriat, yaitu Lazio dan Roma yang masing-masing dimanajeri oleh orang Swiss dan Republik Ceko. Bandingkan dengan English Premiere League yang katanya kompetitif itu, hanya memiliki 5 manager lokal dari total 20 peserta.

Jika anda bosan dengan sepakbola Inggris yang overrated, tidak menghargai permainan gelandang cerdas macam Carrick dan sangat mengandalkan physical ability itu atau Liga Spanyol yang hanya menampilkan dualisme Real Madrid dan Barcelona, cobalah menyaksikan Liga Italia Serie A yang walaupun telah ditinggalkan banyak orang dan hanya ditayangkan oleh TVRI, namun menyuguhkan sepakbola yang sesak dengan taktik brilian.

Jose Mourinho, sekali waktu pernah menyatakan “I used to admire the Italian coaching style even though they were thought to be defensive. For me being tactical is not the same as being defensive and Italian coaches are very tactical.”

Revolusi Kesehatan dalam Dunia Sepakbola

Leave a comment

Dapatkah teman-teman menemukan kesamaan diantara nama-nama yang saya sebutkan berikut, Miklos Feher (Benfica), Marc-Vivien Foe (Kamerun), Antonio Puerta (Sevilla), Daniel Jarque (Espanyol) dan Phill O’Donnel (Motherwell) ? Saya percaya pembaca semuanya tahu, mereka adalah pemain sepakbola yang berusia relatif muda dan berada dalam kondisi yang sehat sebelum bertanding, namun mengalami tragedi berupa serangan jantung, atau dalam istilah kedokteran disebut dengan Sudden Cardiac Arrest (SCA), di lapangan. Malangnya lagi 5 orang ini, dan banyak nama-nama lain yang tidak disebutkan, gagal diselamatkan sehingga akhirnya meninggal.

Terkait permasalahan di paragraf sebelumnya, para ahli kesehatan bertanya-tanya, mengapa seorang pemain sepakbola yang berusia muda, terlatih, memiliki kondisi yang prima sampai dengan sebelum pertandingan, kemudian kolaps di lapangan dan berakhir tragis, meninggal dunia? Data yang mendukung tentang ini memang tidak ada, namun penelitian Van Camp dkk pada tahun 1995 berjudul Nontraumatic sports death in High School and College Athlete menyebutkan ada sekitar 1:65.000 sampai dengan 1:200.000 atlet yang meninggal pertahun akibat SCA. Walaupun data ini usang, telah berusia 17 tahun, namun tidak ada keraguan bahwa SCA ini adalah penyebab utama kematian pada atlet diusia muda ketika bertanding atau berlatih.

Sebelum membicarakan SCA lebih jauh, ada baiknya kita memahami tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh, khususnya jantung seorang olahagawan profesional dibanding non-olahragawan. Adalah seorang S. Henschen, dokter yang pertama kali menemukan perbedaan ini pada atlet ski. Pada tahun 1899 dengan pemeriksaan sederhana ia mampu menyimpulkan bahwa seorang olahragawan, memiliki otot jantung yang lebih tebal daripada non-olahragawan. Penebalan otot jantung ini diakibatkan oleh endurance training yang dilakukan oleh atlet tersebut untuk meningkatkan stamina. Penebalan ini membawa konsekuensi positif berupa meningkatnya kekuatan kontraksi otot jantung, karena kontraksinya yang lebih kuat, denyut jantung olahragawan cenderung lebih rendah < 60x/menit yang dikenal dengan istilah bradycardia, normalnya denyut jantung berada pada kisaran 60-100x/menit, kalau tidak percaya silahkan hitung denyut nadi anda sekarang.

Penebalan jantung pada atlet ini telah diteliti lebih jauh oleh Barry J Maron, dalam publikasinya berjudul The Heart of Trained Athlete yang mengkomparasi ukuran jantung olahragawan dari berbagai cabang, hasilnya, pembesaran jantung pada pemain sepakbola masih berada dibawah atlet lain seperti sepeda balap, renang, marathon, seperti yang ditunjukkan oleh diagram berikut :

 

Gambar 1

Walaupun secara ukuran dan kinerja fisiologis berbeda dengan populasi non-olahragawan, hal ini bukanlah sebuah masalah, malah justru adalah hal yang positif untuk kesehatan.

Pada tahun 2009, sebuah penelitian yang berjudul Football Stadium Defibrilator for Cardiac Arrest yang dilakukan oleh Thiene G, mempublikasi penyebab utama SCA pada atlet, yaitu Hyperthrophic Cardiomyopathy, sering disingkat HCM, (Kondisi dimana otot-otot jantung mengalami pembesaran, tetapi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya) dan Commotio Cordis (Terjadinya benturan di area yang spesifik pada jantung sehingga mengganggu kerja jantung) 2 penyebab ini terutama terjadi pada atlet dengan usia <35 tahun. Khusus untuk HCM, ia adalah penyebab terbesar dengan persentase sekitar 26%, seperti yang ditunjukkan oleh diagram ini :

 

Gambar 2

Menunjukkan persentase penyebab SCA pada atlet

Kepercayaan para ahli sekarang ini menyimpulkan bahwa HCM diakibatkan oleh mutasi genetik. Sehingga apabila seorang atlet memiliki mutasi genetis yang mengakibatkan HCM, disertai dengan adanya endurance training yang memperbesar jantung itu sendiri seperti yang telah dijelaskan, jadilah mereka sangat beresiko untuk mengalami SCA. Malangnya, HCM tidak akan bermanifestasi apa-apa terhadap diri seseorang sampai ia mengalami SCA yang mematikan itu.

Lebih jauh membahas SCA, Penelitian Drezner dkk berjudul Sudden Cardiac Arrest in Intercolligiate athletes: detailed analysis and outcomes of resuscitation in nine case menyebutkan hanya 7 dari 9 atlet yang mengalami SCA dilakukan defibrilasi (semacam terapi kejut listrik) dalam waktu 3.1 menit pasca kejadian. Hasilnya, hanya 1 dari 7 yang bisa bertahan hidup. Dari penelitian ini dapat kita simpulkan bahwa batas antara hidup dan mati seorang atlet hanya berada pada hitungan menit sampai dengan pertolongan datang. Penelitian lain oleh Link MS dkk pada tahun 2003 berjudul Automated External Defibrilator arrythmia detection in a model of Cardiac arrest due to commotio cordis menyebutkan persentase keselamatan binatang yang “sengaja” dibuat mengalami SCA mencapai 100% dan 92% jika dilakukan terapi kejut listrik dalam 1-2 menit.

Mengenai data-data yang diperoleh dari penelitian di atas, kemudian banyak pihak mengusulkan perubahan-perubahan terkait Law of the Games yang diberlakukan FIFA, seperti 1) Kewajiban menyediakan Defibrilator (alat terapi kejut listrik) yang terjangkau dalam waktu 3-5 menit. 2) Membolehkan tim medis masuk ke lapangan jika melihat seorang pemain kolaps, dengan atau tanpa persetujuan wasit utama, tetapi harus diketahui oleh ofisial ke 4 pertandingan, sampai terbukti pemain yang bersangkutan tidak mengalami SCA. Untuk poin nomor 2, terlebih apabila pemain tersebut terlihat mengalami kejang, sesuatu yang dialami oleh lebih dari 50%  penderita SCA. Tidak hanya sebatas pemberlakuan aturan seperti di atas, FIFA juga menghimbau agar para pemain melakukan  pengecekan kondisi jantung secara reguler dengan mengunjungi dokter sebaai langkah pencegahan, pengecekan ini meliputi pemeriksaan fungsi dan morfologi (bentuk) dari jantung, selain itu FIFA juga menghimbau agar pemain tidak memaksakan diri untuk bermain jika sedang berada pada kondisi sakit demam, karena menurut mereka ada beberapa virus tertentu yang apabila menginfeksi hanya bermanifestasi sebagai demam, namun jangan salah, ia bisa menyebabkan kerusakan pada otot jantung.

Berkat perbaikan-perbaikan pada sistem pertolongan inilah, selain banyak faktor lain tentunya, Fabrice Muamba, eks pemain Tottenham Hotspur yang mengalami SCA di lapangan dapat diselamatkan. Dari rentetan kejadian ini, penulis menyadari bahwa sepakbola telah sangat diperhatikan, tidak hanya dari perspektif ekonomi, namun juga kesehatan. Faktor lain yang tadi disebut menyelamatkan Fabrice Muamba adalah keberadaan seorang konsultan penyakit jantung bernama dr. Andrew Deaner yang ternyata merupakan seorang fan Tottenham dan kebetulan sedang menonton partai Tottenham Hotspur vs Bolton Wandererrs itu. Dr. Deaner, ternyata lebih dari seorang dokter, ia juga merupakan sekretaris dari Cardiology Council of the Royal Society of Medicine, semacam pejabat di asosiasi perkumpulan dokter jantung Inggris. Bukti bahwa sepakbola telah dinikmati oleh berbagai macam lapisan masyarakat.

 

Cedera dalam Sepakbola, Part I

Leave a comment

Cedera secara definitif dapat diartikan sebagai kondisi fisik yang menyebabkan pemain gagal ikut bertanding, harus diganti saat pertandingan atau mengalami gangguan sehingga harus mendapat perawatan medis. Dengan demikian, cedera dapat bervariasi dari ringan hingga berat, sangat bergantung terhadap mekanisme terjadinya cedera, jenis cedera yang dihasilkan, lokasi anatomisnya dan hal-hal lain yang relevan. Melalui tulisan ini penulis ingin berbagi pengetahuan tentang berbagai hal terkait cedera dalam sepakbola.

Mekanisme terjadinya cedera

Dalam sebuah jurnal penelitian berjudul “Soccer injury in the lower extremities” yang diterbitkan oleh British Sport Medical Journal tahun 2004, mekanisme terjadinya cedera digolongkan menjadi lima, yaitu ; saat melakukan tackle, saat di-tackle, saat berlari, saat melakukan shooting dan golongan terakhir adalah saat berputar, melompat serta mendarat.

Saat melakukan tackle dan di-tackle pemain seringkali tidak dapat merespon dengan cukup cepat untuk menghindari beberapa kejadian yang berlangsung cepat, berbahaya dan tidak terprediksi. Ketika berlari dan berputar, permukaan lapangan yang tidak rata, sepatu yang tidak cocok dapat menyebabkan berbagai cedera pada otot, tendon dan atau ligamen (struktur yang menempelkan antara tulang yang satu dengan yang lain). Ketika melompat dan mendarat, sebuah aktivitas dalam sepakbola yang erat terkait dengan menyundul, shooting dan penjaga gawang, dilakukan dengan teknik yang salah ataupun terjadi benturan saat pemain melakukannya dapat berakhir dengan cedera. Terakhir, dalam hal shooting pemain bertahan lawan cenderung akan melakukan apa saja untuk menghindari terjadinya gol, benturan dan tindakan lain yang dilakukan untuk menghadang tendangan seringkali juga berbuah cedera.

Jenis-jenis cedera

Dari mekanisme-mekanisme cedera yang telah dijelaskan, dapat menghasilkan berbagai macam cedera. Ada lima macam cedera, yaitu :

  1. Strain : cedera yang terjadi pada otot atau tendon (struktur yang melekatkan otot ke tulang). Strain seringkali disebut juga sebagai ‘otot tertarik’
  2. Sprain : cedera yang sepadan dengan strain, namun lokasinya berada pada ligamen, ‘ligamen tertarik’.
  3. Contusion : atau sering dikenal dengan istilah memar, termasuk minor injury, akan tetapi menurut peneletian yang berjudul “Injury evaluation of the Turkish national football team over six consecutive seasons” yang diterbitkan oleh Turkish Journal of Trauma & Emergency Surgery tahun 2005, Contusion ini adalah cedera yang paling sering terjadi, menyumbang 32% dari total 108 cedera yang terjadi selama enam musim tersebut.
  4. Tendinitis : adanya inflamasi (pembengkakan) pada tendon, seringkali akibat dari overuse dari tendon tersebut. Pada pemain sepakbola, tendon achilles adalah tendo yang paling sering mengalami cedera karena fungsinya yang vital dalam bergerak, berlari, melompat, berputar dll. Terkait cedera Achilles, anda tentu tidak akan lupa cedera Beckham sewaktu  membela AC Milan melawan Chievo ditahun 2010 yang berakibat gagalnya Beckham membela Inggris di World Cup pada tahun yang sama.
  5. Fracture : disebut juga patah tulang. Menyebut fracture dalam sepakbola ada satu nama yang langsung merekat dalam ingatan penulis, yaitu Alf-Inge Rasdal  Håland yang tentu anda akan langsung ingat jika kemudian saya menyebut nama Roy Keane. Ya, Håland adalah pemain Manchester City berkewarganegaraan Norwegia yang kakinya dipatahkan oleh Roy Keane dan harus mengakhiri karirnya akibat cedera yang diperoleh dari kejadian tersebut.

Kelima jenis cedera tersebut memiliki berbagai sub-sub jenis dan tingkat keparahan lagi yang dapat teman-teman baca dengan meng-klik google kemudian men-search-nya dengan keyword tersebut.

Lokasi Anatomi Cedera

Dalam penelitian berjudulInjury Profile of a Professional Soccer Team in the Premier League of Iran”  yang dipublikasi tahun 2010 menyebutkan lebih dari 80% cedera berada pada alat gerak bagian bawah. Tentu hasil ini sangat subjektif disuatu daerah, bergantung pada kultur sepakbolanya, akan tetapi paling tidak inilah gambaran secara umum bahwa cedera pada sepakbola mayoritas mengenai alat gerak bagian bawah yang dibagi lagi menjadi regio ; pinggul, groin (selangkangan), paha, lutut, betis, ankle dan kaki. Dari enam regio ini, ankle adalah yang paling rawan terkena cedera, karena lokasinya yang paling sering berdekatan dengan bola dimana bola adalah fokus dari aktivitas dalam olahraga ini.

Demikian tulisan tentang cedera dalam sepak bola bagian 1 ini, semoga mampu menambah pengetahuan. Dimasa yang akan datang, jika waktu memungkinkan akan penulis share lagi pengetahun-pengetahuan mengenai cedera.

Poin penting dari memahami cedera adalah agar kita mampu menghindari terjadinya cedera!

Mengabadikan Nama Salahudin

Leave a comment

Norwich City FC bukanlah klub yang menjadi perhatian utama di panggung perhelatan EPL musim 2011-2012 kemarin. Norwich yang dikapteni oleh strikernya, Grant Holt, baru kembali ke kasta tertinggi persepakbolaan inggris setelah absen sepanjang enam musim dan hanya finis diurutan dua belas dari total dua puluh peserta liga primer Inggris. Sebenarnya, jika menengok tiga tahun ke belakang maka kita akan melihat betapa sebenarnya Nowrich adalah tim yang sensasional. Musim 2009-2010 Norwich hanyalah klub yang bermain di League One (Kasta ketiga liga Inggris), musim berikutnya, 2010-2011, Norwich berhasil naik ke Championship Division (kasta kedua liga Inggris) setelah berhasil menjadi juara diLeague One. Musim berikutnya lagi, 2011-2012, seperti yang sudah dijelaskan, Norwich adalah satu dari dua puluh peserta Liga Primer Inggris setelah berhasil menjadi Runner-up di Championship Division (kalah dari Queen Park Rangers). Dua promosi beruntun jelas bukan prestasi main-main, butuh tim yang solid, kuat dan haus gelar untuk mencapai itu, serta tidak lupa, manajer brilian yang berada di belakang layar.
Manajer brilian itu adalah Paul Lambert, eks pemain nasional Skotlandia. Ditangan Lambert lah Norwich mencapai prestasi luar biasa selama tiga musim terakhir. Sepanjang tiga musim itu pula, Lambert melalui 142 pertandingan, 70 menang 37 seri dan 35 kalah dengan rasio kemenangan 49.30%! Terhitung sejak akhir musim 2011-2012, Lambert mengundurkan diri sebagai pelatih Norwich untuk hijrah ke Aston Villa. Menarik untuk menanti kiprah Norwich City musim depan tanpa Lambert, semenarik membahas Salahuddin, mantan wing back kiri Tim Nasional Indonesia yang musim ini, sebagai pelatih, berhasil mengembalikan kiprah Barito Putra ke Liga tertinggi sepakbola Indonesia, Indonesian Super League.
Salahuddin adalah sama sensasionalnya dengan paul lambert. Belum bisa memang kita menyandingkan Lambert dengan Mourinho atau Vicente del Bosque seperti kita juga belum bisa menyandingkan Salahuddin dengan Rahmad Darmawan atau Benny Dollo. Tetapi keduanya sukses mempromosikan klubnya ke kasta kelas paling atas liga masing-masing, bahkan jika Lambert menaikkan Norwich dua kelas, Salahuddin lebih lagi, ia menaikkan Barito Putra tiga kelas!
Dimulai sejak musim 2007-2008, musim pertama di Barito, Salahuddin langsung mempersembahkan gelar juara Divisi II Nasional setelah mengalahkan PSCS Cilacap di kandang sendiri dengan skor 1-0. Tidak cukup disitu, Barito juga memperoleh gelar top skor lewat striker asli Martapura, Syaifulla Nazar. Pada akhir musim 2009-2010, setelah dua musim di divisi I akhirnya Barito Putra  naik ke Divisi Utama. Demikian pula pada tingkatan divisi utama, hanya butuh dua musim bagi Salahuddin, tepatnya musim 2011-2012, untuk memastikan Barito Putra promosi ke Indonesian Super League setelah mengalahkan Madura United 2-0 (Yoga o.g, Nehemia Solossa) di semifinal DU LI. Bartman pun berpesta!
Terlepas hasil apapun yang akan Salahuddin ukirkan bagi Barito Putra di ISL musim depan jika ia dipertahankan manajen, kenyataan bahwa Salahuddin tiga kali membawa Barito Promosi dalam jangka waktu lima tahun adalah sebuah prestasi besar tersendiri. Untuk menghargai jasa dan pengabdian Salahuddin, layaknya Sir Alex Fergusson yang namanya diabadikan sebagai ‘Sir Alex Fergusson stand’ sebagai salah satu nama dari sudut tribun di Theatre of Dreams, Old Trafford, mungkinkah kita akan menamai salah satu sudut stadion 17 mei sebagai ‘Tribun Salahudin’ sebagai sudut tribun kedua yang memiliki nama di sana selain tribun Inggris. Atau dengan cara apapun, nama Salahuddin bagi Barito Putra sangat memenuhi kriteria ; layak diabadikan!

Meneladani Kisah Moh Kallon, untuk pemain muda banua

Leave a comment

Interisti pasti mengenal nama Mohammed Kallon, pemain Sierra Leone yang membela inter selama tiga musim sejak 2001-2002 dan mencetak tiga belas gol. Kallon, sebagai seorang striker terkenal dengan kecepatannya yang brilian, sebagai seorang manusia, ia terkenal tangguh dan murah hati. Kallon merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, kakaknya adalah Kemokai dan Musa. Nama terakhir dikatakan pernah memebela PSM Makassar dalam Liga Indonesia. Semenjak usia 15 tahun, Kallon bermain di liga tertinggi Sierra Leone dengan klub Old Edwardian dan telah menyandang caps sebagai pemain nasional dengan memperkuat negaranya di Kualifikasi Piala Afrika 1996. Tahun berikutnya, Kallon pindah ke liga swedia, SpangaFC, yang ribuan mil jauhnya dari kampung halaman dan keluarga. Kepindahan ini tentu bukan dilatar belakangi bakat kallon yang istimewa, walaupun Kallon memang berbakat, tetapi kepindahan ini dilatarbelakangi keberanian dan keteguhan hati seorang pemuda dalam mengejar impiannya menjadi seorang super star sepakbola. Disinilah bakat Kallon mulai tercium dan cerita selanjutnya dia dipinang oleh Internazionale. Musim-musim berikutnya, Kallon banyak mengecap pengalaman dengan dipinjamkan ke klub-klub Liga Itali lain semisal bologna, vicenza dan lain-lain hingga musim 2001-2002 dimana Inter mengalami krisis striker akibat cedera berkepanjangan Ronaldo dan Alvaro Recoba. TIga musim di Inter, Kallon mencetak tiga belas gol dan kemudian hijrah. Karir Kallon selanjutnya dipenuhi dengan berpindah klub, mulai dari liga perancis bersama monaco, liga arab saudi bersama Al Ittihad sampai dengan Saanxi Chanba di Liga China. Ditotal ada sekitar enam belas klub yang pernah dibela oleh Kallon. Cerita di atas adalah satu dari ratusan bahkan ribuan cerita pemain-pemain afrika yang mengorbankan kedekatan keluarga dan zona nyaman di kampung halaman demi meraih cita-cita dan mengadu nasib ke belahan dunia lain. Syarat inilah yang harus dimiliki oleh calon pemain besar, keberanian meninggalkan zona nyaman. Kalimantan selatan tidak kekurangan bakat-bakat sepakbola, SSB Oemar Bakri yang berhasil juara Danone Nations Cup 2003 adalah buktinya, Yossi Irawan yang pernah dipanggil Timnas U16 untuk Piala Asia U16 di Jakarta adalah bukti lain. Masih kurang? Ada nama Ismail Marzuki, jebolan SSB Oemar Bakri yang sempat berlatih beberapa tahun bersama tim SAD Indonesia di Uruguay. Semuanya bukti bahwa urang banjar memiliki banyak talenta untuk dijual kepada sepakbola, paling tindak level nasional. Apa yang dialami oleh Kallon, hendaknya menjadi panutan dan motivasi bagi pesepakbola-pesepakbola muda kita seperti Yossi Irawan, Marcell Yusuf Huwae, Yudi Ersandi dan lain-lain. Pemain muda harus terus haus akan keinginan menjadi pesepakbola besar, pemain harus berani merantau ke pulau sulawesi, jawa bahkan sumatra atau papua untuk ikut seleksi di klub-klub luar. Hal penting lainnya, pemain tidak boleh berputus asa dan memiliki keteguhan hati jika klub yang pada akhirnya dibela bukanlah klub besar. Seperti Kallon yang memulai petualangan di Swedia, kemudian di klub-klub kecil liga Italia terlebih dahulu baru kemudian besar bersama Inter Milan. Selama ambisi untuk menjadi pemain nasional terus berkibar, sperti kata Paulo Coelho, when you want something in yourlife, the whole world will conspire to support you. Ketika kamu benar-benar menginginkan sesuatu terjadi dalam hidupmu, seluruh dunia akan berkonspirasi mendukungmu. Semoga suatu saat ketika kita duduk di depan layar kaca, menonton pertandingan kasta tertinggi persepakbolaan Indonesia, kita akan berteriak “Inya urang banjar…. Inya urang banjar… Mantap banar mainnya…..”

Merayu, ungkapan rindu dan keinginan bercumbu; dengan kamu

Leave a comment

Telah lama saya menyukai dunia sastra romantis, shakespare sampai jalalludin rumi, chairil anwar sampai Sapardi Djoko Damono dan tentu tak lupa, Kahlil Gibran. Berikut saya sharing beberapa kalimat yang saya rangkai, teruntuk perempuan yang saya puja dia karena dirinya seutuhnya.

- Di bibirmu rindu ingin ku usaikan hingga hapuskan keheningan dini hari

- Tanpa praduga, udara dipenuhi bingkai matamu. Lalu mengundang bibirmu, seketika gersang keterasinganku serentak merumput hijau oleh kecupanmu

- Dalam cokelat matamu, aku tak ingin beranjak. Dalam henyak kecupanmu, aku ingin memberhentikan waktu

- Di spasi tidur dan bangunku, ku dengar ‘selamat pagi’ katamu. Demikian, awal pagiku dimulai oleh waham suaramu. Menjelaskan betapa rindu aku padamu

- Rinduku membuncah seperti sekuncup bunga. Di bibirmulah ingin ku mekarkan keindahannya

- Bahkan malamku kini harum tubuhmu, tak kenal waktu untuk terus merindu. Hingga kau, pemilik lugu mata dan manja wajah ada dipundakku

- Aku bahagia dalam setiap sentuh antar jemari kita. Aku gembira dalam setiap jatuh tanganku dilekukan rambutmu. Dan aku memejam mata, bermimpi agar semua ada.

- Diantara acuh dan kerlingan gagu, tidakkah kamu tahu aku memperhatikan, merindu dan mencintaimu dalam satu-satuan waktu.

- Untuk lelahmu hari ini, tumpahkan saja di setiap bahagia yang ku miliki, saat memelukmu.

- Sejenak ketika kau pergi, kupeluk hati-hati bayanganmu, walau demikian, remuk jua hatiku ditinggalmu. Dan dari tubuh diam yang ku biarkan, tumbuh kuncup ingatan, mekar menjadi kerinduan

First post

Leave a comment

salam menulis…

Sebenarnya ini adalah blog kedua yang saya bikin, setelah blog pertama yang dibuat waktu kelas 3 SMA hanya bertahan beberapa bulan dan tidak terurus.. Baiklah, barangkali akan sangat baik jikalau saya mulai dengan mempekenalkan sedikit tentang diri saya, untuk mengenal lebih dalam tentu harus bertemu dan berkenalan langsung.. hehe..

Nama Lengkap : Muhammad Agi Ramadhani Gustisiya

Panggilan : Agi

TTL : Pelaihari 6 Maret 1992

Pendidikan :

TK Tunas Tapin (sekarang sudah gak ada lagi) Rantau, Kab Tapin Kalimantan Selatan

SDN Rantau Kiwa 1 Kab Tapin Kalimantan Selatan (kelas 1-2)

SDN Angsau 2 Pelaihari Kab Tanah Laut Kalimantan Selatan (kelas 3)

SDN Angsau 4 Pelaihari Kab Tanah Laut Kalimantan Selatan (kelas 4-6)

SMPN 1 Pelaihari Kab Tanah laut Kalimantan Selatan

SMAN 1 Banjarmasin Kodya Banjarmasin Kalimantan Selatan

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada angkatan 2009

Interest : Medicine ( terutama ilmu orthopedi dan traumatologi) Olahraga (terutama Badminton Football dan Futsal)

Cita-cita pribadi : dr M Agi Ramadhani Gt Sp.OT [K] -masih belum ditentukan-

Oke sekian tentang profil diri, karna tidak memungkinkan untuk mengecek wordpress setiap hari silahkan berinteraksi via twitter @agiramadhani

 

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 516 other followers

%d bloggers like this: